Kegiatan ketik mengetik, menjadi aktivitas yang mungkin sering kita lakukan.
Keyboard menjadi tumpuan untuk mengukir banyak rangkaian,
hingga sesuatu pun terpampang menjadi sebuah cerita di sana,
dan langkah maju perlahan untuk semakin membahana.
Itu semua, dimulai dari aksi 14+14 ruas yang beriringan.
Jari jemari itu terlihat sibuk meski bersebelahan,
kadang gerakannya cepat tapi, sesaat kemudian kecepatannya dapat berkurang.
Tergantung bagaimana tempo itu tercipta dengan cemerlang.
Adakalanya juga jari jemari itu lincah merangkai kata-kata, menjadi kalimat, lalu diperpanjang lagi menjadi paragraf, hingga berlembar-lembar rangkaian huruf dan tanda baca tercipta.
walau tak ayal, seringkali pula saltik atau salah ketik alias typo terjadi.
edit,
baca,
revisi,
hapus,
simpan,
edit lagi,
baca lagi,
revisi lagi,
hapus lagi,
simpan lagi.
Begitu seterusnya, dengan terus begitu jalannya.
Sebagaimana hidup saat ini yang tersirat,
adakalanya alurnya terasa cepat,
kadang pula melambat,
kerap kali juga ingin rehat,
walau sebenarnya tak ingin sampai terlewat.
Apakah memang hidup itu perlu istirahat?
Bila tak ada yang namanya sejenak untuk melepaskan penat,
entah akan seperti apa kondisi yang akan terjerat,
maka biarkanlah perjalanan waktu beranjak pelan, tak melulu harus memburu cepat.
Sebab itu hal lumrah untuk dilakukan.
Apalagi untuk tiap-tiap yang mengeluarkan embusan itu, ingin merasakan ketenangan.
Jangan pula dianggap suatu kesalahan.
Dengan begitu, ia bisa merasakan suatu kehidupan.
Mungkin pembaca di sini percaya bahwa masing-masing waktu beredar menurut waktu yang ditentukan.
Atau bisa saja memiliki interpretasi yang lain, bukan?
Tak mengapa, karena ini bukan untuk melakukan jajak pendapat.
Melainkan, untuk mengolah kata bahwa krusialnya pemikiran dengan akal sehat.
Itulah sekelumit kisah sesaat
tatkala merangkai kalimat,
biar menjadi cerita kilat,
semoga bisa bermanfaat.
Kalau mau komentar, silakan rekan sejawat,
biar kolom komennya ga sepi-sepi amat 😄🤣










Posting Komentar