Puisi: Di mana Hidanganku?

ilustrasi by freepik (tohamina)

Tempatnya cukup ramai

Banyak meja dan kursi yang sudah ditempati oleh orang-orang yang mencari makan

Cuaca di luar bagus, 

begitupun dalam ruangannya juga sangat luas dan sesaat ada angin sepoi-sepoi yang sejuk bertiup: sapalah dia, salam kejujuran!

 

Satu demi satu mereka bergegas mencari posisi yang bagus.

Lagi pula, mereka bilang kesuksesan ditentukan oleh posisi duduk, 

dan posisi terbaik di sini adalah harus memiliki rasa integritas.

Makanan di meja pasti mempunyai rasa yang jujur, ​​karena suatu alasan. 

Faktanya, makanan hanyalah makanan

Seperti apa rasanya makanan itu?

Ya, pastinya rasa yang sudah kamu ketahui asin, manis, pedas, pahit, dan nikmat memang selalu ada.

ilustrasi by freepik (freepik)

Sebenarnya kejujuran itu perlu, meski hanya di meja panjang yang dipenuhi makanan.

Orang jujur ​​mulai bertanya: "Di mana pesananku?”

Segenap pasang mata terperanjat mendengar pada suara itu.

“Itu sajakah yang dihidangkan? Mana sayurannya?” ujar si jujur itu lagi.

Hanya sepiring nasi tanpa sayuran favoritnya.

 

Tidak ada seorang pun yang dapat menjawab pertanyaan itu

Mereka diam tertunduk.

Namun, salah satu dari mereka mencoba meyakinkannya


Baca Juga:

 

Tetapi ekspresi si jujur menunjukkan bahwa, dia tidak lagi berminat untuk melihat taburan piring di meja panjang itu

Meski begitu, demi menghormati yang terbentang di hadapannya, dan sejumlah dolar yang telah dikeluarkannya untuk makan malam di meja panjang itu, si jujur menghabiskannya.

Lalu orang jujur ​​itu berjalan pergi, mengabaikan gemeretak piring dan simbol tangan yang terkatup.

 

Jakarta, 3 Desember 2023 

Komentar

Blogger Surabaya mengatakan…
Inspiratif puisinya, kak. Tapi apakah benar jika kesuksesan ditentukan oleh posisi duduk? mungkin itu hanya perumpamaan ya kak
Matius Teguh Nugroho mengatakan…
Sabar sedikit ya, Anak Jujur. Nikmati dan habiskan apa yang bisa disajikan. Tak semua orang seberuntung dirimu yang masih punya kesempatan memilih makanan. Mereka hanya mengambil remah-remah di jalanan.
Diah Woro Susanti mengatakan…
Nyesek banget ga sih kalau dipermainkan. Bilang aja kalau gak ada ya daripada bikin kecewa orang. Hiekz kalau aku bisa-bisa kasih rate bintang satu deh huhh
Adi mengatakan…
Bahasanya mengalir luwes dan serasa ingin baca bait di bawahnya. Keren dan berbakat juga ya mbak bikin puisi. Salut. Tapi kira2 siapakah orang jujur itu?
YSalma mengatakan…
Makanan rasanya walau sudah tertakar tapi jika tidak yang pas di selera bikin mood makan hilang ya, walau tempatnya bagus, bahkan bangkunya di tempat strategis.
Semoga yg sedang memperebutkan bangku saat ini menjaga integritasnya.
lithaetr mengatakan…
Menurut saya saat ini, menulis puisi itu tak mudah, sehingga membaca puisi dari teman yang bisa menulis puisi itu keren. Mengasah rasa di dalam puisi agar pesan kiasan dalam puisi bisa tersampaikan itu tak mudah, jadi puisi bagi saya punya tantangan tersendiri. Mantap, kakak
Bambang Irwanto mengatakan…
Saya sampai 3 kali membaca puisi ini, Mbak. Dan karena saya sudah lama tidak membaca puisi, jadi saya lama baru mencerna, bahkan mungkin tidka pas mencerna hehehe. Dan saya jujur mengakui. Seperti soal kejujuran pada hidangan. Kadang kita jujur mengatakan enak, namun terkadang juga harus berkata tak jujur, demi menjaga perasaan orang lain.
Maria G Soemitro mengatakan…
makanan gak hanya makanan sih

makanan adalah perpaduan seni dan teknik yang menghasilkan rasa asin, manis, pahit, asam dan umami
Suci mengatakan…
Kalo bole sok tau, hehe
pesan atau isi dari puisi ini kira2 seseorang ngga mendapatkan sesuai dengan yang telah dia keluarkan.
Intinya ga sesuai ekpektasi tapi dia menganggapinya dengan selo...

Begitukah? hihiii
hani mengatakan…
Aku kurang paham puisi Kak...Maafkan...
Cuma tahu rimanya a-b-a-b, a-a-a-a...gitu ga sih? Atau boleh bebas aja?

Intinya, dari puisi di atas, kita harus bersyukur dengan yg ada yah...
Annie Nugraha mengatakan…
Saya belum bisa mencerna puisi ini karena memang tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk memahami puisi yang artinya tidak tersirat langsung. Tapi tentu saja karya sastra ini keren karena tidak semua orang bisa meramu sedemikian banyak kata menjadi suatu karya tulis yang mengesanakan.
Cindi mengatakan…
Apakah ini semacam 'posisi menentukan prestasi?' Kak?
Pas bagian akhir kok jadi sedih sama si anak jujur yang akhirnya pergi gitu ya :')
lendyagasshi mengatakan…
Rindu dengan bait-bait puisi yang indah.
Pasti pesannya mendalam dan bisa menjadi pelajaran bagi para pembacanya. Seperti di bait puisi kali ini, kita semua disajikan dengan kenyataan bahwa zaman sekarang, makanan disajikan secara cepat dan kurang memenuhi kaidah gizi yang ada.
lendyagasshi mengatakan…
Rindu dengan bait-bait puisi yang indah.
Dan kali ini, pembaca dipaparkan sebuah kenyataan bahwa makanan zaman sekarang sangat jauh dari kaidah gizi yang baik karena kurang lengkap dari kebutuhan gizi manusia sehari-hari.
Ainun mengatakan…
lama nggak bikin puisi, kangen juga merajut kata-kata indah kayak gini.
Aku jadi inget waktu sekolah dulu, ada yang bilang, posisi duduk menentukan prestasi, tapi sepertinya memang tergantung dari individunya

Postingan populer dari blog ini

Pahami Bagian Ini Ketika Melakukan Servis Motor

Pejuang Cantik dari Kupang: HKSR Komprehensif untuk Anak & Remaja

Ini Cara Mudah Belajar dan Menyenangi Sastra